logo
Rancang WEB Pribadi Anda...

Cek Nama Domain ?

Mari bergabung..
Putu Sudiarta
image

Putu Sudiarta

+628123855276


Tidak ada yang tidak mungkin kalau kita mau mencoba...

Hari Raya Galungan dan Kuningan

image

Makna hari raya Galungan adalah merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan) bagi umat beragama Hindu, selain itu hari raya galungan juga diartikan sebagai Pawedalan Jagat atau Oton Gumi yang jatuhnya adalah pada Budha Keliwon wuku Dungulan. Ciri khas pelaksanaan hari raya Galungan di Bali adalah dengan adanya Penjor (terbuat dari bambu dan janur) di depan setiap rumah. Penjor ini umumnya dipasang sehari sebelum hari raya Galungan yaitu hari selasa atau yang sering disebut dengan hari penampahan Galungan Di Bali biasanya hari raya Galungan dirangkaikan dengan hari raya Kuningan, umat Hindu di Bali memiliki segudang hari raya, bayangkan saja di Bali bahkan setiap 15 hari sekali ada hari raya, walaupun pelaksanaannya tidak semeriah hari raya galungan dan Kuningan. Walaupun hari raya Galungan belum diakui oleh pemerintah Indonesia dengan menjadikannya sebagai hari libur nasional, tetapi jangan heran bahwa di Bali hari raya Galungan terasa lebih meriah dibanding hari raya Nyepi.

Hari raya galungan tahun ini diperingatai pada tanggal 14 Oktober 2009 tepat 10 hari kemudian adalah hari raya Kuningan yang jatunya pada tanggal 24 oktober 2009.

Sejak Redite Pahing Dungulan emapt hari sebelum hari Raya galungan kita didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Sang Kala Tiga ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat, mereka adalah simbul angkara (keletehan). Jadi dalam hal ini umat berperang, bukanlah melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma. Berjuang, berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma.

 

Pendeknya, mula-mula kita diserang, kemudian ditundukkan, dan akhirnya dikuasai. Ini yang akan terjadi, keletehan benar-benar akan menguasai kita, bila kita pasif saja kepada serangan-serangan itu. Dalam hubungan inilah Sundari-Gama mengajarkan agar pada hari-hari ini umat den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan. Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta (keletehan-keletehan) hati tersebut. Inilah hakikat Abhya-Kala (mabiakala) dan metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan itu.

 

Menurut Pustaka (lontar) Djayakasunu, pada hari Galungan itu Ida Sanghyang Widhi menurunkan anugrah berupa kekuatan iman, dan kesucian batin untuk memenangkan dharma melawan adharma. Menghilangkan keletehan dari hati kita masing-masing. Memperhatikan makna Hari Raya Galungan itu, maka patutlah pada waktu-waktu itu, umat bergembira dan bersuka ria. Gembira dengan penuh rasa Parama Suksma, rasa terimakasih, atas anugrah Hyang Widhi. Gembira atas anugrah tersebut, gembira pula karena Bhatara-bhatara, jiwa suci leluhur, sejak dari sugi manek turun dan berada di tengah-tengah pratisentana sampai dengan Kuningan.

 

Demikian uraian singkat tentang makna dari Hari Raya Galungan dan kuningan.

Sun, 25 Oct 2009 @16:54

Copyright 2010 Putu Sudiarta All Rights Reserved
Proudly Powered by sitekno